the sociology of avatars
mengapa kita memilih wajah yang berbeda di dunia virtual
Pernahkah kita menghabiskan waktu berjam-jam hanya di layar awal sebuah game? Kita menggeser kursor ke kiri dan ke kanan. Kita mengatur tulang pipi, memilih warna rambut, hingga menentukan bentuk rahang sebuah karakter. Terkadang, kita memilih wajah yang sangat mirip dengan pantulan kita di cermin. Namun lebih sering, kita menciptakan sosok yang sama sekali berbeda. Kita bisa menjadi ksatria berotot, elf yang anggun, atau bahkan monster dengan luka codet di wajah. Saya sering tersenyum sendiri mengingat momen-momen ini. Di dunia maya, entah itu di game MMORPG, platform virtual reality, atau sekadar foto profil media sosial, kita punya kuasa penuh atas wajah kita. Pertanyaannya, mengapa kita repot-repot melakukan ini? Saat kita memilih wajah yang berbeda di dunia virtual, apakah kita sedang menyembunyikan diri kita yang asli? Atau sebaliknya, jangan-jangan kita justru sedang membongkar rahasia terdalam tentang siapa kita sebenarnya? Mari kita bedah fenomena ini bersama-sama.
Untuk memahami hal ini, kita perlu mundur sejenak dan melihat sejarah panjang umat manusia. Jauh sebelum ada internet, nenek moyang kita sebenarnya sudah akrab dengan konsep "ganti wajah". Mari kita ingat kembali teater Yunani kuno atau festival topeng di Venesia. Pada masa itu, manusia menggunakan topeng untuk mengekspresikan emosi yang terlalu kompleks atau terlalu tabu untuk ditunjukkan secara langsung. Istilah persona dalam psikologi bahkan berasal dari kata Latin untuk topeng teater. Jadi, menggunakan wajah lain bukanlah hal baru. Teman-teman, apa yang kita lakukan hari ini dengan avatar digital sebenarnya adalah evolusi dari festival topeng kuno tersebut. Sosiolog terkenal Erving Goffman pernah bilang bahwa kehidupan ini adalah sebuah panggung teater. Kita semua adalah aktor yang selalu berusaha menampilkan sisi terbaik kita sesuai dengan siapa penontonnya. Di dunia nyata, kebebasan kita dibatasi oleh gravitasi, biologi, dan ekspektasi masyarakat. Namun di dunia virtual, batas-batas itu runtuh. Avatar memberi kita tiket VIP untuk bermain-main dengan identitas, tanpa risiko ditolak oleh dunia nyata.
Namun, ada sebuah fenomena aneh yang sering kita temui. Coba perhatikan lingkungan sekitar atau pengalaman teman-teman sendiri. Sering kali, seorang introvert yang pendiam di dunia nyata justru memilih avatar yang mencolok, berisik, dan sangat agresif. Atau sebaliknya, seorang CEO yang garang di kantor malah memilih bermain sebagai karakter healer yang lembut dan suka menolong. Banyak juga laki-laki yang secara konsisten selalu memilih karakter perempuan, begitu pula sebaliknya. Orang awam mungkin akan cepat menghakimi dan menyebut ini sebagai pelarian semata. Escapism. Kita dianggap lari dari kenyataan karena tidak puas dengan hidup kita. Tapi, benarkah sesederhana itu? Jika ini cuma soal pelarian, mengapa eksperimen identitas ini sering kali terasa sangat emosional dan personal? Apa yang sebenarnya terjadi di dalam otak kita saat kita memegang kendali atas tubuh digital yang bukan milik kita? Di sinilah sains dan psikologi masuk, dan fakta yang mereka temukan ternyata jauh lebih mengejutkan daripada sekadar teori pelarian.
Bersiaplah, karena kebenarannya cukup membuat kita merenung. Dalam psikologi, ada konsep yang disebut Teori Kesenjangan Diri atau Self-Discrepancy Theory dari E. Tory Higgins. Higgins membagi diri kita menjadi tiga: diri kita saat ini (actual self), diri yang seharusnya menurut orang lain (ought self), dan diri ideal yang kita impikan (ideal self). Nah, avatar bukanlah pelarian, melainkan kanvas kosong tempat ideal self kita akhirnya bisa bernapas. Wajah digital itu adalah proyeksi murni dari harapan bawah sadar kita. Tapi temuan yang paling mind-blowing datang dari dunia neurosains dan psikologi siber, yang dikenal sebagai The Proteus Effect. Peneliti dari Stanford University, Nick Yee dan Jeremy Bailenson, menemukan bahwa avatar tidak hanya mengubah cara orang lain melihat kita, tapi mengubah cara kita melihat dan membawa diri kita sendiri secara real-time. Dalam eksperimen mereka, partisipan yang diberi avatar lebih tinggi terbukti bernegosiasi lebih agresif dan percaya diri di dunia nyata, bahkan setelah game dimatikan. Partisipan yang diberi avatar menarik secara fisik menjadi lebih ramah dan terbuka. Otak kita secara harfiah merespons tubuh digital kita sebagai tubuh asli. Kita tidak sedang mengendalikan avatar tersebut; secara perlahan, avatar itulah yang sedang memprogram ulang perilaku saraf kita.
Jadi, teman-teman, memilih wajah yang berbeda di dunia virtual bukanlah sebuah kebohongan atau penipuan. Ini adalah sebuah bentuk komunikasi sains yang paling intim dengan diri kita sendiri. Melalui sosiologi avatar, kita belajar bahwa manusia adalah makhluk yang sangat kompleks. Kita memiliki banyak lapisan emosi, potensi, dan kepribadian yang mungkin tidak semuanya bisa ditampung oleh satu tubuh biologis. Saat kita mendesain karakter yang tinggi besar, mungkin itu adalah suara keberanian kita yang selama ini bungkam. Saat kita memilih karakter yang eksentrik, mungkin itu adalah sisi kreatif kita yang lelah dipaksa seragam oleh aturan masyarakat. Menyadari hal ini membuat kita bisa lebih berempati, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain di internet. Di balik setiap pixel, zirah virtual, dan wajah animasi yang kita temui, ada manusia yang sedang bereksperimen untuk menjadi versi yang lebih utuh. Lain kali jika kita kembali ke layar pemilihan karakter, nikmatilah prosesnya. Tersenyumlah pada wajah baru itu. Sebab pada detik itu, kita tidak sedang menciptakan orang lain. Kita sedang berkenalan dengan bagian dari diri kita yang selama ini menunggu untuk ditemukan.